Selasa, 25 Mei 2010

Grand Final Kasus Century

DPR RI akhirnya memutuskan pemberian FPJP dan PMS untuk menyelamatkan Bank Century sebagai kebijakan bermasalah.Pada pemungutan suara Rabu malam/ 3maret 2010 pemilih opsi C mengungguli pemilih opsi A. Susahnya DPR Ri dalam menentukan jalan keluar dari kasus bank Century ini terlihat dari jalannya rapat yang dilakukan hingga tengah malam. Jalannya sidang dipenuhi oleh berbagai kericuhan baik dari para anggota dewan maupun dari penonton sidang. Kericuhan yang terjadi pun tidak sewajarnya apabila kita lihat karena para anggota dewan tentulah sudah berpendidikan tinggi. Tidak sedikit dari para anggota dewan yang tidak bisa mengendalikan emosi mereka hingga meluapkannya dalam bentuk teriakan-teriakan yang tidak seharusnya mereka keluarkan. Opsi A mewakili dari pernyataan bahwa kebijakan pemberian FPJP dan PMS kepada Bank Century sudah tepat sedangkan opsi C adalah sebaliknya yaitu kebijakan itu bermasalah.Jumlah suara yang mendukung opsi C adalah sebanyak 325 orang sedangkan pendukung opsi A hanyalah 212 orang. Hasil akhir menentukan bahwa kebijakan pemberian FPJP dan PMS tersebut bermasalah. Dari hasil tersebut maka pihak berwajib akan menindaklanjuti maslah tersebut.

Kericuhan tidak hanya terjadi didalam ruang sidang tapi juga di luar ruang sidang DPR RI. Massa pengunjuk rasa penentang kebijakan pengucuran dana talangan (bailout) Bank Century bentrok dengan aparat kepolisian didepan Gedung DPR , Jl Gatot Subroto, Jakarta. Bentrokan terjadi ketika pengunjuk rasa berusaha merangsek masuk melalui pintu gerbang Gedung DPR yang dijaga ketat ratusan aparat kepolisian. Massa kemudian terprovokasi dan melempari aparat kepolisian dengan batu dan kayu. Karena terus terdesak akibat serangan itu, polisi melakukan balasan dengan menembakkan air melalui kendaraan water cannon serta gas air mata untuk menghalau pengunjuk rasa. Aparat akhirnya mengamankan beberapa orang yang diduga menjadi provokator.

Kapolda Metro Jaya, Irjen Wahyono, menyesalkan tindakan aparatnya yang melakukan semprotan water cannon terhadap para pengunjuk rasa yang berdemonstrasi. "Kami tidak ingin menciderai demokrasi sekarang. Saya sangat menyesal dengan semprotan air tadi. Kalau bisa jangan pakai air," kata Wahyono di dalam kawasan Gedung DPR. Wahyono berjanji aparatnya tidak akan memnggunakan water cannon untuk menghadapi para pengunjuk rasa."Karena polisi sudah berubah mindsetnya. Bukan polisi yang dulu lagi," ujarnya.Lebih lanjut, pihaknya juga akan melakukan pengobatan dan penggantian atas kerugian fisik materiil dan imateriil yang telah diderita oleh para pengunjuk rasa.

Kericuhan yang terjadi pada saat rapat baik didalam maupun diluar rungan menimbulkan berbagai tanggapan dari masyarakat. Berbagai tanggapan yang muncul kebanyakan seperti menyindir para anggota dewan yang tidak bisa mengendalikan emosi.Seharusnya mereka bisa lebih sedikit tenang dilihat dari pendidikan yang telah mereka enyam, tetapi kenyataanya tindakan yang mereka lakukan tidak jauh berbeda dengan para mahasiswa yang diluar gedung. Bagaimana dengan kepercayaan masyarakat apabila melihat kelakuan para petinggi-petinggi dinegara ini?Mau jadi apa bangsa ini?





Sumber : Koran Monitor Depok, Kamis 4 Maret 2010

0 Comments:

 

blogger templates | Make Money Online